Ketika “Membela Mazhab Syafi‘i” Dipakai untuk Menyerang Sunnah
Beberapa waktu terakhir, sering beredar sebuah postingan yang melabeli buku
Ajaran Mazhab Imam Asy-Syafi'i Yang Ditinggalkan Sebagian Pengikutnya
sebagai “buku Wahabi”, seolah-olah buku tersebut merupakan ancaman bagi mazhab Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله.
Seperti postingan propaganda lainnya untuk "menggembosi dakwah Sunnah".
Masalahnya, narasi ini tidak lahir dari kajian ilmiah, tetapi dari sikap ideologis yang sejak awal memang tidak simpatik terhadap dakwah Sunnah.
Isu Sebenarnya: Bukan Mazhab, tapi Sunnah
Perlu diluruskan sejak awal:
buku ini tidak menyerang Imam Asy-Syafi‘i, dan juga tidak memaksa semua orang harus beramal dengan satu pendapat tertentu. Yang dikritisi adalah sebagian praktik dan sikap pengikut yang:
mengaku bermadzhab Syafi‘i,
tetapi meninggalkan prinsip-prinsip yang justru ditegaskan oleh Imam Syafi‘i sendiri.
Ironisnya, pihak yang paling keras melabeli buku ini “Wahabi” justru sering:
meremehkan sunnah jenggot,
membolehkan rokok,
menolak atau menakwil sifat-sifat Allah dengan pendekatan yang tidak dikenal dalam manhaj Salaf,
dan bersikap alergi terhadap ajakan kembali kepada hadits shahih.
Padahal, semua perkara ini bukan isu pinggiran, tetapi berkaitan dengan manhaj dan sikap terhadap Sunnah.
Kontradiksi yang Terlihat Jelas
Jika benar mereka konsisten membela mazhab Imam Syafi‘i, maka pertanyaannya sederhana:
- Apakah Imam Syafi‘i dikenal sebagai ulama yang meremehkan Sunnah?
- Apakah beliau menolak sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam nash?
- Apakah beliau membangun agama di atas fanatisme, bukan dalil?
Jawabannya jelas: tidak.
Maka persoalannya bukan pada “menyelisihi mazhab” atau tidak, tetapi pada inkonsistensi:
Mazhab dijadikan tameng ketika ingin menyerang dakwah Sunnah.
Namun prinsip mazhab itu sendiri ditinggalkan ketika tidak sejalan dengan selera.
Label “Wahabi” sebagai Jalan Pintas
Ketika tidak mampu membantah isi buku secara ilmiah—bab per bab, dalil per dalil—yang tersisa hanyalah labelisasi:
“Ini Wahabi.”
“Jangan tertipu.”
“Ini bukan cara bermadzhab.”
Label semacam ini bukan hujjah, dan tidak pernah menjadi tradisi para ulama.
Ini adalah jalan pintas untuk menutup diskusi, bukan membukanya.
Kesimpulan
Mengkritik fanatisme dan mengajak kembali kepada dalil bukan kebencian pada mazhab Syafi‘i.
Justru sebaliknya, itu adalah pengamalan wasiat Imam Syafi‘i sendiri.
Jika sebuah buku dilabeli “Wahabi” hanya karena menghidupkan Sunnah dan mengoreksi praktik yang lemah dalilnya, maka yang bermasalah bukan bukunya—melainkan sikap terhadap Sunnah itu sendiri.
Comments
Post a Comment