Apakah diam berdampak negatif pada otak?
Apakah diam berdampak negatif pada otak?
Artikel versi lebih lengkap saya post di https://ryan-isra.net/apakah-diam-menyendiri-berdampak-negatif-otak/ karena di ryanisra.blogspot.com ini biasanya hanya potongan artikel, atau versi tulisan pendek, atau tulisannya tidak selalu update, dan tidak disertai ilustrasi memadai, sekaligus referensi yang lebih lengkap.
Bisa iya, bisa tidak.
- Kadang-kadang kesunyian dan penyendirian dapat bermanfaat bagi otak. Tapi, isolasi yang berkepanjangan dan kurangnya interaksi linguistik/sosial dapat memiliki efek neurologis (efek ke otak) yang bisa merugikan secara periodik:
- Atrofi otak pada area pengolahan bahasa dan sosio-emosional. Atrofi otak merujuk pada kehilangan sel-sel saraf (neuron) dan sambungan antar neuron (sinapsis) di area tertentu di otak. Ini menyebabkan penyusutan ukuran fisik dan berat otak.
- Risiko tinggi kecemasan, depresi
- Penurunan fungsi kognitif otak.
Beberapa penelitian terkini menganalisis hubungan antara sikap antisosial, pendiam, dan penarikan diri secara sosial dengan perubahan struktur dan fungsi otak, terutama penyusutan volume pada area-area tertentu di otak.
Namun, hasil penelitian masih beragam dan inkonklusif dalam menentukan apakah penyusutan volume otak ini memiliki dampak jangka panjang yang merugikan atau tidak.
Beberapa riset yang membahas hal ini, diantaranya:
1. Von Der Heide et al. (2013) menemukan volume abu-abu yang lebih kecil pada area pemrosesan emosi dan fungsi sosial pada individu pemalu dan pendiam.
2. Santarnecchi et al. (2014) melaporkan atrofi kortikal pada area pengolahan emosi, imbalan, dan fungsi eksekutif pada individu dengan gangguan kepribadian skizoid.
3. Spampinato et al. (2020) mencatat penipisan korteks di area yang terlibat dalam kognisi sosial dan proses penghargaan pada individu dengan gangguan kepribadian skizotipal.
4. Kanai et al. (2012) menemukan hubungan antara ukuran gyrus temporal superior dan frekuensi interaksi sosial pada individu yang sehat.
5. Liu et al (2020) mencatat perbedaan aktivasi pada jaringan otak default mode yang terlibat dalam fungsi sosio-emosional antara mereka dengan gangguan kepribadian menghindari versus kelompok kontrol.
6. Machado-de-Sousa et al. (2014) melaporkan penurunan volume substantia grisea amigdala, bagian dari sistem pemrosesan emosi, pada pasien gangguan kepribadian skizotipal.
7.Kitayama et al. (2017) menemukan ukuran korteks prefrontal yang lebih kecil pada remaja dan dewasa muda Jepang yang menarik diri secara sosial.
8. Wang et al (2019) mencatat penipisan lapisan korteks area yang terlibat dalam kognisi sosial pada individu dengan fobia sosial.
9. Dai et al. (2019) menemukan pengurangan volume dan aktivitas area otak yang terlibat dalam teori pikiran, empati, dan fungsi eksekutif pada pasien gangguan kepribadian skizotipal.
10. Yamamoto et al. (2015) mendokumentasikan asosiasi positif antara pemulihan dari gejala negatif skizofrenia seperti penarikan diri sosial dan peningkatan volume hippocampus.
Kesimpulan :
Ada teori yang disepakati dari berbagai riset ini, bahwa atrofi otak dan penyusutan volume otak akibat isolasi sosial yang ekstrem atau kurangnya stimulasi sosial-linguistik dalam jangka panjang secara umum ada benarnya, dan beberapa catatan berikut layak mendapat sorotan:
- Atrofi/penyusutan progressive bisa terjadi pada area otak yang bertanggung jawab untuk fungsi bahasa, emosi, dan kognisi sosial jika seseorang menarik diri total dari interaksi dan stimulasi sosial dalam jangka waktu lama.
- Ini disebabkan kurangnya aktivasi saraf dari luar yang dibutuhkan untuk mempertahankan kesehatan dan integritas neuron. Prinsip "use it or lose it" berlaku di sini.
- Selain atrofi, isolasi sosial juga dikaitkan dengan peningkatan inflamasi saraf, tekanan oksidatif, dan kerentanan terhadap penyakit neurodegeneratif.
- Namun efek buruknya bersifat dosis-respon dan dapat dibalikkan atau dihindari jika stimulasi sosial dan aktivasi kognitif cukup dini diberikan kembali. Otak manusia memiliki neuroplastisitas yang baik.
Secara keseluruhan hasil penelitian masih belum konklusif mengenai efek jangka panjang dari penyusutan volume otak akibat sikap antisosial dan penarikan diri. Beberapa studi menunjukkan potensi pemulihan dengan perubahan gaya hidup dan stimulasi sosial maupun kognitif. Diperlukan penelitian longitudional skala besar terhadap populasi yang lebih beragam untuk memahami efeknya dalam jangka panjang.
Comments
Post a Comment